DID YOU KNOW?? Perfeksionisme Ternyata Memiliki Efek Negatif Lho!

[Did You Know?]

Perfeksionisme sering dianggap sifat positif yang mendorong seseorang untuk selalu melakukan yang terbaik. Tapi, tahukah kamu, perfeksionisme dapat memiliki efek negatif, berkaitan dengan beberapa gangguan kesehatan mental, dan malah bisa menghambat produktivitas?

Sebelumnya, apa tepatnya perfeksionisme itu? Definisi perfeksionisme berpusat pada adanya standar yang tinggi disertai evaluasi diri yang keras berdasarkan standar tersebut. Perfeksionisme bersifat multidimensional dan biasa dibagi menjadi “perfectionist striving,” aspek membuat standar yang tinggi, dan “perfectionist concern,” aspek evaluasi berdasarkan standar itu. Perfectionist concern telah ditemukan jelas berkaitan dengan berbagai efek negatif dan dianggap bersifat maladaptif.

Adanya evaluasi diri yang keras, reaksi berat terhadap kegagalan dan selalu memikirkan kesalahan, mencari validasi dari orang lain, sensitif terhadap kritik, dan pikiran all-or-nothing yang dapat ditemukan pada perfeksionis bisa menghambat produktivitas. Rasa khawatir dan takut melakukan kesalahan atau tidak mencapai target yang dibuat malah bisa membuat seseorang menghindari apa yang perlu dikerjakan, dan sulit menyelesaikan sesuatu. Burnout pada mahasiswa dan pekerja juga ditemukan berkaitan dengan hal ini.

Bukan hanya dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, perfeksionisme juga merupakan proses transdiagnostik dan sering ditemukan pada beberapa kondisi, termasuk OCD, anoreksia, bulimia, social anxiety disorder, gangguan panik, dan depresi. Perfeksionisme juga dapat ditemukan pada populasi umum tanpa gangguan kesehatan mental, dan berasosiasi dengan gejala kecemasan, depresi, dan stres. Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy ditemukan berguna untuk mengurangi tendensi perfeksionis, dan mengurangi gangguan kesehatan mental yang dipengaruhi tendensi ini.

Katanya sih, perfect is the enemy of good. Memang tidak ada salahnya memiliki standar yang tinggi dan berusaha untuk mencapainya. Tapi terlalu keras mengevaluasi diri & menggantungkan validitas diri terhadap target tersebut memiliki efek negatif pada kesehatan, kualitas hidup, maupun kualitas pekerjaan.

#ResearchIsFun

Referensi:

  • Limburg, K., Watson, H. J., Hagger, M. S., & Egan, S. J. (2017). The relationship between perfectionism and psychopathology: A meta‐analysis. Journal of clinical psychology, 73(10), 1301-1326. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28026869/
  • Robinson, A., & Abramovitch, A. (2020). A Neuropsychological Investigation of Perfectionism. Behavior therapy, 51(3), 488-502.
    https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32402263/
  • Hill, A. P., & Curran, T. (2016). Multidimensional perfectionism and burnout: A meta-analysis. Personality and social psychology review, 20(3), 269-288. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26231736/
  • Tonta, K. E., Howell, J. A., Hasking, P. A., Boyes, M. E., & Clarke, P. J. (2019). Attention biases in perfectionism: Biased disengagement of attention from emotionally negative stimuli. Journal of behavior therapy and experimental psychiatry, 64, 72-79. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30852359/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *