[Did You Know?]
Tahukah kamu, selain jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, waktu makan juga bisa memengaruhi berat badan dan kesehatan?
Ya, waktu makan dapat memengaruhi kedua hal tersebut, yang utamanya berhubungan dengan ritme sirkadian tubuh. Ritme sirkadian adalah sistem “jam internal” tubuh, berpusat pada nucleus suprachiasmaticus hipotalamus yang merupakan generator utama untuk ritme sirkadian endogen dan meregulasi sistem-sistem perifer. Nah, ritme sirkadian bukan cuma mengatur siklus tidur-bangun, tapi juga berbagai ritme metabolik, termasuk metabolisme glukosa dan lipid, serta dapat memengaruhi fungsi dan sekresi beberapa hormon.
Toleransi glukosa berubah pada waktu berbeda, dan ditemukan kontrol glikemik yang lebih rendah pada sore dan malam hari pada orang dewasa sehat. Perubahan ini dipengaruhi oleh ritme diurnal responsivitas sel beta, klirens insulin, dan sensitivitas insulin. Kebiasaan tidak sarapan, makan siang terlambat, dan intake makanan yang tinggi pada makan malam telah dihubungkan dengan berbagai indikator obesitas.
Dengan Time-Restricted Eating (TRE), ditemukan bahwa konsumsi makanan yang lebih banyak setelah bangun dan lebih sedikit pada waktu yang dekat dengan tidur malam diasosiasikan dengan IMT serta massa lemak lebih rendah. Pada sebuah studi, partisipan obesitas juga mengalami penurunan tekanan darah sistolik, konsentrasi glukosa, dan trigliserida. Tidak terjadi penurunan berat badan signifikan pada partisipan sehat, namun perubahan lain seperti penurunan massa lemak tetap terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa TRE memiliki efek menguntungkan pada orang-orang dengan ataupun tanpa disfungsi metabolik.
Tapi, signifikansi perubahan ini ditemukan dipengaruhi oleh tipe kronotropik. Tipe ritme sirkadian orang memang berbeda-beda, dan pengaturan jam internal tubuh tidak persis sesuai dengan konsep “sarapan, makan siang, dan makan malam” yang umum kita gunakan. Makanya, studi-studi dengan definisi waktu yang lebih jelas serta mempertimbangkan tipe kronotropik partisipan perlu dilakukan. TRE dapat menjadi metode yang lebih mudah diikuti dibandingkan pembatasan kalori untuk mempertahankan berat badan optimal.
Referensi:
- Moon, S., Kang, J., Kim, S. H., Chung, H. S., Kim, Y. J., Yu, J. M., … & Kim, T. (2020). Beneficial Effects of Time-Restricted Eating on Metabolic Diseases: A Systemic Review and Meta-Analysis. Nutrients, 12(5),1267. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7284632/
- Xiao, Q., Garaulet, M., & Scheer, F. A. (2019). Meal timing and obesity: Interactions with macronutrient intake and chronotype. International Journal of Obesity, 43(9), 1701-1711. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30705391/
- Paoli, A., Tinsley, G., Bianco, A., & Moro, T. (2019). The influence of meal frequency and timing on health in humans: The role of fasting. Nutrients, 11(4), 719. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30925707/