[Did You Know?]
Lucid dreaming adalah keadaan di mana dalam mimpinya, seseorang menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Kok bisa? Apa sih yang terjadi di otak saat kita bermimpi?
Nah, mimpi utamanya terjadi di fase REM tidur. Di sini, terjadi peningkatan aliran darah serebral (CBF) pada area visual, serta pada beberapa struktur yang mengatur pemrosesan emosi seperti amigdala, korteks prefrontal media, & korteks cingulata anterior. Mimpi di fase REM ini biasanya sangat visual, punya alur naratif, emosional, dan aneh.
Lucid dreaming juga umumnya terjadi di fase REM ini. Bedanya, ada beberapa bagian otak yang mengalami peningkatan aktivitas pada lucid dreaming, namun menurun pada mimpi REM biasa. Misalnya, yang ditemukan beberapa penelitian dengan neuroimaging, korteks prefrontal anterior dan gyrus cingulata ataupun temporalis media mengalami peningkatan aktivitas.
Dengan menggunakan fMRI, ditemukan bahwa terjadi peningkatan sinyal di korteks, gyrus frontalis superior, aPFC, dan korteks parietal lateral. Korteks fronto-temporal sendiri memang telah diketahui berperan dalam metakognisi. Keadaan lucid dreaming di fase REM ini juga diasosiasikan dengan peningkatan aktivitas fisiologis, sistem saraf otonom, dan supresi refleks-h.
Untuk induksinya, ada beberapa latihan seperti teknik memori prospektif, penggunan kode sensori eksternal, serta menginterupsi tidur dengan beberapa periode bangun yang singkat. Ada juga loh obat yang ditemukan dapat memudahkan lucid dreaming, yaitu AChEIs. Ada juga dua laporan kasus yang memuat mengenai dua orang yang mulai mengalami lucid dreaming, utamanya di pagi hari, setelah mengalami stroke iskemik unilateral di thalamus mediodorsal kiri, yang menghilang setelah 1 bulan.
Dengan perkembangan teknologi, seperti pada neuroimaging, kemampuan untuk memahami hal-hal seperti ini juga meningkat. Walaupun untuk mendapat data yang baik dan valid perlu adanya standarisasi, serta penelitian baiknya dilakukan di sleep lab. Pemahaman tentang mimpi dan lucid dreaming ini juga bisa membuat kita lebih memahami hal-hal lain, seperti neuroscience dan neuroanatomi dari kesadaran, yang saat ini belum jelas diketahui.
#ResearchIsFun
Referensi:
- Baird, B., Mota-Rolim, S. A., & Dresler, M. (2019). The cognitive neuroscience of lucid dreaming. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30880167
- Siclari, F., Baird, B., Perogamvros, L., Bernardi, G., LaRocque, J. J., Riedner, B., … & Tononi, G. (2017). The neural correlates of dreaming. Nature neuroscience, 20(6), 872. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5462120/
- Fazekas, P., & Nemeth, G. (2018). Dream experiences and the neural correlates of perceptual consciousness and cognitive access. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 373(1755), 20170356. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6074077/