Did You Know?? Sindrom yang Membuat Penderitanya Seperti Mayat Hidup, Apakah Itu?

[Did You Know?]

Tahukah kamu, terdapat kondisi yang disebut Walking Corpse Syndrome? Bukan kondisi fiksi seperti zombie, tapi merupakan kondisi di mana seseorang yang masih hidup dapat merasa bahwa dirinya telah meninggal dunia.

Ya, Walking Corpse Syndrome, disebut juga Cotard’s Syndrome berdasarkan nama orang yang pertama mendeskripsikan hal ini, adalah kondisi langka di mana seseorang merasa bahwa dirinya telah meninggal dunia, tidak ada, mengalami kerusakan salah satu atau lebih organ, atau merasa bahwa tubuhnya sedang mengalami dekomposisi. Meski sering disederhanakan sebagai “delusi akan kematian,” delusi yang dialami orang-orang dengan sindrom ini lebih kompleks dan bervariasi.

Penyebab dan mekanisme terjadinya hal ini belum pasti, namun kondisi ini diasosiasikan dengan berbagai kondisi psikiatrik maupun neurologik, seperti skizofrenia, depresi, kecemasan, demensia, perdarahan serebral, neoplasma serebral, maupun penggunaan beberapa obat-obatan seperti acyclovir.

Dalam salah satu jurnal yang melakukan analisis neuropsikiatrik dari kondisi ini, ditemukan bahwa sebagian besar pasien mengalami perubahan pada hemisfer otak non-dominan atau bilateral. Terdapat pula kecenderungan adanya atrofi serebral bilateral, serta atrofi lobus frontal. Daerah yang sering terlihat perubahan adalah lobus frontal, yang juga merupakan regio di mana kerusakannya dilaporkan pada orang-orang dengan delusi misidentifikasi.

Kondisi ini memang belum banyak dipahami, selain karena mekanisme yang kompleks, juga karena sedikitnya penderita sindrom ini yang telah didiagnosis. Tapi bukan berarti sindrom ini tidak bisa disembuhkan, beberapa laporan kasus telah melaporkan suksesnya penggunaan beberapa obat pada orang-orang dengan Cotard’s Syndrome. Obat seperti antidepresan, antipsikosis, antikonvulsan, sedatif, ataupun terapi seperti ECT telah dilaporkan direspon baik pada beberapa kasus. Pengobatan biasa dilakukan dengan kombinasi beberapa macam obat, ataupun menghentikan penggunaan obat tertentu.

#ResearchIsFun

Referensi:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *