[Did You Know?]
Tahukah kamu, terdapat kondisi yang menyebabkan penderitanya menangis atau tertawa yang berlebihan, tidak terkontrol, ataupun tidak sesuai dengan perasaannya?
Setelah film Joker keluar, Pseudobulbar Affect jadi sering dibahas karena katanya bisa menyebabkan tawa patologis karakter utamanya. Apa benar? Sejauh apa kesamaannya?
Jadi, PBA adalah gangguan neurologis yang diakibatkan oleh gangguan pada susunan saraf yang mengatur pengekspresian emosi. Karena itu, banyak hal bisa menyebabkan PBA, meski mekanisme pastinya belum diketahui. Sebuah studi menemukan bahwa trauma kepala adalah penyabab sering dari PBA. Studi lain menyimpulkan bahwa sekitar 1 dari 5 pasien stroke mengalami PBA dalam 1 bulan setelah stroke. Kondisi lain yang bisa menyebabkan PBA termasuk Parkinson, Demensia Alzheimer, Amyotrophic Lateral Sclerosis, dan Multiple Sclerosis.
Sejauh ini kayaknya PBA cukup mirip dengan tawa patologis di filmnya. Tapi, efek tertawa sebenarnya adalah tipe PBA yang sangat jarang loh. Tipe yang paling sering ditemukan adalah tipe yang hanya mengalami menangis, diikuti tipe campuran. Karena itu, PBA bisa salah didiagnosis sebagai depresi/gangguan bipolar.
Sekarang udah ada obat-obat yang disetujui FDA untuk mengobati PBA. Tapi, sulitnya mendiagnosis PBA bisa menyebabkan misdiagnosis, sehingga terapi yang diberikan tidak sesuai dan tidak berefek. Pasien juga kadang tidak melaporkan keluhan ini karena sulit menjelaskannya. Sehingga, tanpa terapi pun, banyak pasien yang baru terdiagnosis yang mengatakan bahwa mereka merasa lega telah mendapatkan penjelasan dari apa yang mereka alami. PBA bisa sangat mengganggu kehidupan sosial pasien, utamanya jika orang di sekitar mereka tidak memahami kondisi itu.
Nah, jadi walaupun kondisi ini cukup mirip dengan yang terjadi di filmnya, bukan berarti orang-orang dengan PBA disamakan dengan karakter fiksi loh ya. Kondisi ini lebih sering terjadi dari yang kita kira, efeknya juga sangat nyata di kehidupan mereka. Mengingat masalah utama yang dialami pasien PBA berhubungan dengan pemahaman dan diagnosis yang kurang tepat, jelas penting yah untuk punya pengetahuan yang baik tentang kondisi satu ini.
#ResearchIsFun
Referensi:
- Sauvé, W. M. (2016). Recognizing and treating pseudobulbar affect. CNS spectrums, 21(S1), 34-44. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28044945
- Gillespie, D. C., Cadden, A. P., Lees, R., West, R. M., & Broomfield, N. M. (2016). Prevalence of pseudobulbar affect following stroke: a systematic review and meta-analysis. Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, 25(3), 688-694. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26776437
